Sabtu, 29 November 2014

Akuntansi : Sebuah Ilmu Dengan Beragam Paradigma



A.  Konsep Paradigma
1.  Perubahan – perubahan revolusioner, teori-teori, dan paradigma ekuilibrium tersela
Selama periode ekuilibrium, sistem akan menjaga dan melaksanakan pilihan dari struktur dalam mereka. Sistem akan membuat penyesuaian-penyesuaian yang melindungi struktur dalam dari gangguan internal dan eksternal, dan berbergerak secara perlahan mengikuti jalur yang telah ditentukan dalam struktur dalam.
2.  Teori umum Kuhn tentang Revolusi ilmiah
Struktur adalah suatu jaringan kerangka kerja, “pilihan –pilihan” yang terindipenden dari suatu konfigurasi dasar yang menyusun unit-unit suatu sistem, dan aktivitas-aktivitas yang mempertahankan baik konfigurasi maupun pertukaran sumber daya yang dimiliki oleh sistem dengan lingkungannya. Struktur dalam pada sistem – sistem yang diciptakan manusia sebagian besar bersifat implisit.

B.  Macam – macam Paradigma
Usulan-usulan di bawah ini di buat oleh terbitan dari American Accounting Asociantion pada tahun 1997, yang berjudul Statement of Theory Appectance, paradigma-paradigma berikut ini di usulkan oleh terbitan tersebut:
1. Paradigma antropologis
2. Paradigma laba sebenarnya ( true-income )/ model keputusan.
3. Paradigma keputusan( decision usefulness )/model keputusan.
4. Paradigma kegunaan keputusan /pengambil keputusan (decision maker /prilaku pasar agregat (agregate market bahavior)
5. Paradigma kegunaan keputusan/pengambil keputusan/pengguna induvidu.
6. Paradigma informasi/ekonomi


v  Paradigma Antropologis/Induktif
Bagi mereka yang menerapkan paradigma antropologis/induktif, subyek permasalahan yang mendasar adalah :
1.    Praktik-praktik akuntansi yang sudah ada.
2.    Sikap manajemen terhadap praktik-praktik tersebut.
Para pendukung dari pandangan ini menyatakan secara umum bahwa teknik-tekniknya dapat di peroleh berdasarkan ata penggunaan mereka yang telah teruji atau bahwa manajemen memainkan suatu peranan utama dalam menentukan teknik-teknik yang akan di implentasikan.
Konsekuensinya, tujuan penelitian tujuan akuntansi yang di kaitakn dengan paradigma antropologis/induktif adalah untuk memahami, menjelaskan dan meramalkan praktik-praktik akuntansi yang sudah ada.
Empat teori dapat di pertimbangkan sebagai bagian paradigma antropologis/induktif :
1.  Ekonomi informasi
2.  Model analitiss/keagenan
3.  Perataanlaba/hipotesis manajemen penghasilan
4.  Teori positif dari akuntansi
Mereka yang menerapkan paradigma antropologis/indiktif cenderung akan menerapkan salah satu dari tiga teknik di bawah ini :
1.  Teknik-teknik yang di gunakan dalam penelitian perataan laba
2.  Teknik-teknik yang di gunakan dalam penelitian manajemen penghasilan
3.  Teknik-teknik yang di gunakan dalam penelitian teori positif

v  Paradigma laba sebenarnya/deduktif
Bagi mereka yag menerapkan paradigma laba sebenarnya/deduktif, subyek permaasalahan yang mendasar adalah :
1.  Penyusunan suatu teori  akuntansi berdasarkan pada pemikiran yagn logis dan normatif dan ketegasan konseptual.
2.  Suatu konsep laba yang ideal pada metode lain sealain metode biaya historis.
ManNeal menyatakan suatu konsep laba ideal adalah seabagai berikut : Terdapat suatu definisi yang tepat  dari laba dalam artian akuntansi “laba” adalah  suatupeningkatan kaekayaan bersih
Alexandar yagn juga mengemukakan mengenai suatu konsep laba ideal :
Kita juga harus mengemukakan apakah laba ekonomi adalah suatu hal yang ideal, di man alaba akuntansi hanya memiliki perbedaan sampai sejauh tingkatan bahwa ideal adalah suatu hal yang secara pratik tidak akan dapat terpenuhi, atau apakah laba ekonomi adalah suatu hal yang pantas bahkan tidak akan dapat di ukur dengan pasti.
Teori yang munculdar paradigma laba sebenarnaya/deduktif menyajikan alternatf-alternatifbag sistem akuntansi biaya historis. Secara umum ada lima teori yagn dapat di identifikasikan :
1.    Akuntansi tingkat harga yagn telah di sesuaikan (atau daya beli saat ini)
2.    Akuntansi biaya penggantian.
3.    Akuntansi nilai pembatasan.
4.    Akuntansi kontemporer(nilai bersih yang dapat di realisasikan)secara kontinu.
5.    Akuntansi nilai sekarang.
Masing-masing teori di atas menyajikan metode-metode alternatif darri penilaian aktiva dan penentuan laba yang di duga dapat mengatasi kelemahan-kelemahan dari sistem akuntansi biaya historis.
Bagi mereka yang menerima paradigma laba sebenarnya/deduktif umumya menerapkan pemikiran analitis untuk membenarkan penyusunan dari suatu teori akuntansi atau untuk mengungkapkan mengenai keunggulan-keunggulan dari model penilaian aktiva/penentuan laba tertentu selain dari akuntansi biaya historis.para pendukung dari paradigma ini umunya melaanjutkan dai tujuan dan postulat-postulat mengenai lingkungan hingga ke metode yang spesifik.

v  Paradigma kegunaan keputusan/model keputusan
Chambers tidak mengejar pandangan mengenai paradigma kegunaan/model keputusan (decision-model)ini. Ia lebih memilih untuk mendasarkan suatu teori akuntansi berdasarkan atas kegunaan dari” setara kas lancar” daripada para model-model keputusan dar kelompok-kelompok pengguna tertentu. Demikian pula, May menawarkan suatu daftar kegunaa dari akun-akun keuangan tanpa secara eksplisit menerapkan pendekatan model keputusan di dalam formulasi darri suatu teori akuntansi.[1] Menurut May, akun keungan di gunakan sebagai :
1.    Laporan mengenai kepengurusan.
2.    Suatu basis bagi kebijakan fisikal.
3.    Suatu kriteria mengenai legalitas dari deviden.
4.    Suatu pedoman untuk menyadarkan aktivitas dividen.
5.    Suatu basis bagi pemberian kredit.
6.    Informasi bagi calon-calon investor prospektif.
7.    Suatu pedoman mengenai nilai dari investasi yagn telah di hasilkan.
8.    Bantuan dari suvervisi pemerintah.
9.    Suatu basis untuk regulasi tingkat harga.
10.   Suatu basis untuk perpajakan.
Suatu sistem akuntansi hendaknya di rancang untuk memberikan informasi yang relavan terhadap model-model pengambilan keputusan yang rasional. Sistem akuntansi tidak dapat memberikan semua informasi yang di inginkan oleh semua pengambil keputusan dan oleh karenanya kita harus memutuskan untuk mengeluarkan beberapa jenis informasi dan memasukkan jenis-jenis informasi yang lainnya.
Membatasi model-model pengambilan keputusan ke model-model yanng rasional memungkinkan adanya pengecualian sekumpulan data berdasarkan atas tingkah laku dari pengambil keputusan. Ia memungkinkan kita untuk berrkonsentrasi padda hal-hal yang telh terbukti efektif dalam mencapai sasaran para pengambil keputusan.
Bagi mereka yagn menerapkan model kegunaan keputusan/model keputusan. Subyek permasalahan yang mendasar adalah kegunaan dari informasi akuntansi bagi model keputusan.  Informasi yang relavan bagi suatu model keputusan atau kriteria akan di tentukan dan selanjutnya di implementasikan dengan memilih alternatif  akuntansi terrbaik. Kegunaan dari suatu model keputusan di samakan dengan relevansi terhadap suatu model keputusa.
Dua jenis teori dapat dimasukkan kedalam paradigma kegunaa keputusan/model keputusan. Jenis teori pertama berkaitan dengan perbedaan jenis-jenis model keputusan yang di kaitkan dengan pengambilan keputudan bisnis ( pemograman linier, penganggaran modal, sewa versus beli, buat versus beli dan seterusnya). Jenis teori yang kedua berhubungan dengan peristiwa-peristiwa ekonomi yang berbeda yang dapat mempengaruhi kelangsunga usaha(kebangkrutan, pengambil alihan, pengganbungan usaha, perringkat obligasi dan seterusnya).
Mereka yang menerima paradigma kegunaan model/model keputusan cenderrung untuk berganttung pada teknik-teknik empiris untuk menentukan kemampuan peramalan dari item-item informasi yang telah di pilih. Pendekatan umumnya adalah menggunakan analisis untuk diskriminan untuk mengklasifikasikan menjadi satu dari beberapa pengalompokan apriori, tergantung pada masing-masing karakteristik keungann individu.

v  Paradigma kegunaan keputusan/pengambil keputusan /prilaku pasar agregat.
Bagi mereka yang menerapkan paradigma kegunaan keputusan/pengambil keputusan/prilaku pasar agregat, subyek permasalahn yang mendasar adalah respons pasar agregat terhaddap variabel-variabel  akuntansi. Secara umum kegunaan keputusan dari variabel-variabel akuntansi dapat di peroleh dari prilaku pasar agregat atau yang di sajikan oleh Gonedes dan Dopuch bahwa hanya dampak-dampak dari prosedur atau spekulasi akuntansi alternatif yamg dapat dinilai dari prilaku pasarr agregat. Meonedes dan Dopuch pemilihan sistem informasi akuntansi akan di tentun oleh prilaku pasar agregat.
Hubungan antara prilaju pasarr agregatdanvariabeel akuntansi di dasarkan pada teori mengenai efesiensi pasarr modal. Menurut teori ini, pasar untuk surat berhargaakan di anggap tidak efisien di mana (1)harga pasar “sepenuhnya mencermink informasi” seluruh informasi yang terseedia untuk publik dan sebagai implikasinya(2) harga pasar adalah tidak biasa dan dapat dengan segera merespons informasi baru. Teori ini memiliki artian bahwa secara rata-rata, pengembalian yang abromal (kelebihan pengembalian darri ekuiblirium pengambilan yang di harapkan) yang di porroleh karena menerrapkan seperangkat informasi yang ada dan bersama-sama denagn skela perdagangan mana pun adalah nol. Perubahan perangkat informasi ini akan secara otomatis menghasilkan ekuiblirium baru. Bahkan teori  ini mengonfirmasikan parradigma prilaku pasar yang meliputi :
1.    Model pasar efisien.
2.    Hipotesis pasarr efisien.
3.    Model penetapan harga aktiva modal.
4.    Teori penetapan harga arbitrase.
5.    Teori ekuilibrium mengenai penetapan harga opsi.
Mereka yang menerima paradigma pasarr bergantung pada metode-metode berrikut ini:
1.    Model pasar.
2.    Model estimasi beta.
3.    Metodologi studi peristiwa.
4.    Model penilaian daro Ohslon
5.    Model evaluasi neraca tingkat harga.
6.    Model muatan informasi dari laba
7.    Model mengenai hubungan antara laba dan pengambilan.

v  Paradigma kegunaan keputusan/pengambil keputusan/pengguna individu
Hasil karya dari William Bruns dapat di anggap seebagai contoh pertama dari paradigma peangambil keputusan/pengambil keputusan/pengguna individu.[3] Bruns mengusulkan hipotesis yang menghubungkan penggunaan informasi akuntansi dan relevansi dari informasi akuntansi terhadap konsepsipengambil keputusan tentang akuntansi, dan informasi lain yang tersedia terhadap dampak informasiakuntansipada berbagai keputusan. Hipotesis-hipotesis ini juga di kembangkan dalam suatu model yang mengidentifikasi dan menghubungkan faktor-faktor yang mungkin menentukan kapan keputusan akan di studi mengenai bagaimana fungsi-fungsi dalam laporan akuntansi mempengaruhi perilaku dari para akuntan dan nonakuntan.
Bagi mereka yang menerapkan paradigma kegunaan keputusan/pengambil keputusan/pengguna individu, subyek permasalahan yang mendasar adalah respons dari pengguna individu terrhadap variabel-variabel akuntansi. Para penyokong paradigma ini berpendapat bahwa, secara umum kegunaan keputusan darri variabel akuntansi dapat di dapatkan dari prilaku manusia. Dengan kata lain, akuntansi di pandang sebagai suatu proses prilaku. Tujuan penelitian akuntansi keperilakuan adalah untuk memahami, menjelaskan, meramalkan prilaku manusia dalam konteks akuntansi. Paradigma ini menjaddi perhatian dari para pengguna internal akuntansi, prosedur dan menyokong informasi, serta masyarakat umum dan perwakilannya.
Kebanyakan penelitian yang berrkaitan dengan paradigma kegunaan keputusan/pengambil keputusan/pengguna individu telah di laksanakan keuntungan dari formasi yang eksplisit dari suattu teori. Umumnya, sebagai alternatif dari mengmbangkan teori-teori akuntansi keprilakuan yang tepat adalah meminjam darri disiplin ilmu yang lain. Sebahagian besar teor-teori yang di pinjam menjelaskan dan meramalkan prilaku manusia dalam konteks akuntansi dengan cukup memandai. Teori-teori yang di pinjam ini meliputi :
1.       Relavisme kognitif dalam akuntansi
2.       Relavisme kultural dalam akuntansi
3.       Dampak kprilakuan  dari informasi akuntansi
4.       Relavisme linguistik dalam akuntansi
5.       Hipotesis fungsional dan fiksasi data
6.       Hipotesis induksi informasi
7.       Hipotesis organisasional dan kelonggaran penganggaran
8.       Pendekatan kontinjensi terhadap perancangan sistem akuntansi
9.       Penganggaran partisipatif dan kinerja
10.     Model-model pemrosesan informasi manusia yang mencakup :
a)    Model lensa
b)   Model pertimbangan probabilistik
c)    Model prilaku prakeputusan
d)   Pendekatan gaya kognitif
Mereka yang menerima paradigma ini cenderung untuk menggunakan seluruh metode yang di dukung oleh teknik-teknik observasi, wawancara, dan kuesioner, sert percobaan adalah metode yang di sukai. Hal ini merupakam titik awal yang baik untuk validasi lebih lanjut.

v  Paradigma informasi/ekonomi
Contoh dari paradigma informasi/ekonomi yagn di ucapkan oleh Crandall, Feltham, serta Feltham dan Demski. Dalam makalah pendahulunya, Feltham mengusulkan suatu kerangka kerja untuk menentukan nilai dari suatu perubahan dalam keputusan informasi (pengambil keputusan). Kerangka kerja ini bergantung pada masing-masing komponen yang di butuhkan untuk menghitung pengembalian(atau manfaat) yang di harapkan oleh suatu sistem informasi tertentu. Komponen-komponen terrsebut adalah:
1.  Seperangkat tindakan-tindakan yang mungkin di alakukan pada tiap-tiap priode dalam suatu rentang waktu.
2.  Fungsi pengembalian atas peristiwa-peristiwa yang terjadi pada priode berlangsung.
3.  Hubungan probabilistik antara peristiwa-perristiwa masa lalu dan masa datang.
4.  Periwtiwa dan sinyal-sinyal dalam sistem informasi, terrmasuk sinyal-sinyal dari masa lalu dan masa datang.
5.  Seperangkat aturan-aturan kepututsan sebagai fungsi dari sinyal-sinyal.
Crandall menilai kegunaan dari paradigma informasi/ekonomi terhadap perkembangan masa datang dari teori akuntansi dan menawarkan pandekatan “ekonomi informasi terapan” sebagai suatu terapan mainstremteori akuntansi yang baru. Sederhananya, pendekatan ini terdiri atas pengakuan secara eksplisit setiap komponendari model informasi/ekonomi dan memperluas ruang lingkup dari rancangan akuntansi untuk mencangkup selirih komponene-komponen ini.
Bagi mereka yang yang mengadaptasi paradigma informasi/ekonomi, subyek permasalahan yang mendasar adalah :
a.  Informasi adalah suaut komoditas ekonomi
b.  Perrolehan informasi adalah serupa dengan masalah mengenai pilihan ekonomi.
Nilai dari informasi di lihat dari segi kriteria biaya manfaat dalam struktur formal dari teori keputusan dsn teori ekonmi. Hal ini di jelaskan sebagai berikut :
Masalah yang di perdebatkan sehubungan dengan akuntansi akrual bergantung pada dasar-dasar pemikiran bahwa (1) laba yang di laporkan menurut akuntansu akrual melebihkan lebih banyak informasi dari pada yang akan di berikan oleh sistem akuntansi berorientasi arus kas yang kurang begitu ambisius,(2) akuntansi akrual adalah cara yang paling efisien untuk menyampaikan tambahan informasi ini, dan juga sebagai akibat yang wajar, (3) nilaidari tambahan sistem informasi seperti itu melebihi biayanya

Jumat, 21 November 2014

PERSPEKTIF-PERSPEKTIF PENELITIAN DALAM AKUNTANSI


1.   Perspektif Peneliti – Peneliti Akuntansi
A.  Perolehan Ilmu Akuntansi
Pada dasarnya kita mulai memperoleh ilmu pengetahuan melalui pengalaman-pengalaman konkrit yang kita alami. Keunikan dari beberapa peristiwa, ritual atau fenomena mengarahkan kita untuk meningkatkan pengamatan dan pemikiran yang kita lakukan atas apa yang sedang terjadi. mengajarkan kita, jika kita cukup termotivasi, untuk menciptakan hipotesis dalam bentuk konsep-konsep abstrak dan generalisasi. Hal ini menggerakkan kita untuk menguji hipotesis-hipotesis tadi, untuk memahami implikasi yang dihasilkan oleh konsep tersebut pada situasi-situasi baru dan sebagai proses untuk memperhalus pengetahuan yang kita peroleh. Hal di atas sebenarnya menggambarkan proses yang menjelaskan perolehan suatu ilmu akuntansi, yang berangkat dari fakta-fakta tertentu (diamati atau ditemukan) berlanjut ke hipotesis-hipotesis tertentu (penyusunan pemikiran) lalu ke teori-teori umum (penyusunan pemikiran yang lainnya) hingga ke hukum umum yang diamati atau ditemukan.
Perhatikan bahwa pengetahuan terbagi menjadi tiga jenis :
·         Pengetahuan-bahwa (knowledge-that) atau pengetahuan faktual,
·         Pengetahuan-dari (knowledge-of) atau pengetahuan berdasarkan perkenalan atau pengetahuan berdasarkan pengalaman, dan
·         Pengetahuan-bagaimana (knowledge-how).

B.  Klasifikasi Peneliti-Peneliti Akuntansi
Keragaman ilmu pengetahuan dan proses perolehan ilmu pengetahuan mengarah ke adanya kebutuhan untuk mengklasifikasikan ilmuan pada umumnya dan peneliti akuntansi pada khususnya. Terdapat berbagai kemungkinan kerangka kerja untuk mengklasifikasikan para peneliti secara umum, termasuk tipologis.
Tipologi yang digunakan oleh Mitroff dan Kilman[4] untuk menghasilkan klasifikasi para peneliti:
·         Ilmuan Abstrak (Abstract Scientist-AS);
·         Teoritikus Konseptual (Conseptual Theorist-CT);
·         Humanis Konseptual (Conseptual Humanist-CH);
·         Humanis Khusus (Particular Humanist-PH).

Ilmuan Abstrak, seseorang yang menggunakan indra nya dan berpikir, dimotivasi oleh penyelidikan yang menggunakan metodologi dan logika yang seksama, dengan fokus pada kepastian, keakuratan dan keandalan, serta bergantung pada sebuah paradigma konsisten yang sederhana dan terdefinisikan dengan baik.
Teoritikus Konseptual, seseorang yang berfikir dan berintuisi, mencoba untuk memberikan banyak penjelasan atau hipotesis untuk fenomena yang terjadi dengan berfous pada penemuan dan bukan pengujiannya.
Humanis Khusus, seseorang yang menggunakan indra dan perasaannya, berkepentingan dengan keunikan dari individu manusia secara khusus. Setiap orang memiliki arti yang unik dari pada suatu akhir teoretis yang Abstrak.
Humanis Konseptual, seseorang yang menggunakan intuisi dan perasaannya, berfokus pada kesejahteraan manusia yang mengarahkan penyelidikan konseptual pribadinya ke arah kebaikan dari umat manusia secara umum.

2.   Perspektif Metodologi Akuntansi : Ideografi Versus Nomotesis
Pendekatan nomotesis ... hanya mencoba untuk mencari hukum dan menerapkan prosedur-prosedur yang telah di sampai kan oleh ilmu pasti. Psikologi secara umum telah berusaha untuk menjadikan dirinya sebagai salah satu disiplin ilmu yang sepenuhnya nomotesis. Sedangkan ilmu-ilmu pengetahuan ideografis ... berusaha untuk memahami beberapa peristiwa-peristiwa tertentu yang terjadi di alam atau di masyarakat.
Burrell dan Morgan memberikan suatu definisi yang mendalam mengenai baik nomotesis maupun ideografi. Pendekatan ideografis didasarkan atas pandangan bahwa seseorang hanya dapat memahami dunia sosial dengan pertama kali memperoeh pengetahuan langsung dari subyek yang sedang diselidiki. Ia kemudian memberikan tekanan yang cukup kuat untuk mendekati subjek tersebut dan menekan kan analisis dari catatan-catatan subjektif  yang di hasilkan dengan “masuk ke dalam” situasi dan melibatkan  diri dalam kegiatan sehari-hari, analisis yang rinci dari wawasan yang di ciptakan oleh interaksi sejenis dengan subjek dan wawasan yang di tunjukkan dalam catatan-catatan impresionistis yang di temukan dalam buku harian, biografi, dan catatan-catatan jurnalistis.
Pada sisi yang lain, pendekatan nomotesis mendasarkan penelitian pada protokol dan teknik. Pendekatan ini dilambangkan oleh pendekatan metode-metode yang di pergunakan dalam ilmu-ilmu pengetahuan alam. Ia disibukkan dengan penyusunan tes-tes ilmiah  dan penggunaan teknik-teknik kuantitatif dalam analisis data. Survei, kuesioner, tes-tes kepribadian dan semua jenis instrumen penelitian yang telah distandardisasi marupakan alat-alat penting paling utama, yang menyusun meodologi nomotesis.
Arti dari semua hal diatas bagi praktik penelitian adalah pada akhirnya ia harus mengambil pilihan di antara ketiga pilihan berikut:
·         1.Melakukan baik penelitian nomotesis maupun ideografis dan agregatnya
·         2.Melakukan penelitian nomotesis dan ideografis secara bergantian,   menggunakan kedua metode tersebut secara bergantian untuk mengkapitalisasi kekuatan dari keduanya di beberapa kasus tertentu dan mengatasi kelemahan yang di miliki metode lainnya dibeberapa kasus lainnya.
·         3. Mengembangkan sebuah ilmu baru.

3.   Perspektif Ilmu Akuntansi
A.  Hipotesis dunia” (world hypotheses) Oleh Stephen Pepper
·         Formisme
Formisme secara filosofis terhubung dengan “kenyataan” dan “idealisme platonik” dengan eksponen-eksponen. Metafora akarnya adalah kesamaan. Hal ini mengasumsikan formisme berfokus pada fenomena-objek, peristiwa, proses – yang di ambil satu persatu dari sumber,yang mencoba untuk mengidentifikasikan kesamaan atau perbedaan hanya melalui sebuah uraian, dan menerima hasil dari penguraian tersebut. Aktifitas utama adalah pengraian dengan berdasar pada kesamaan, tampa mempertimbangkan sumber- sumber dari kesamaan itu sendiri. Uraian dalam formisme terbagi menjadi tiga katagori : (1) karakter, (2) kekhususan, dan (3) Partisipasi.
Apa yang tampak dalam formisme adalah bahwa kebenaran merupakan tingkat kesamaan suatu uraian terhadap objek yang di acunya.Formisme merupakan sebuah teori kebenaran yang didasar kan atas kesesuaian. Formisme tidak meliputi pertanyaan-pertanyaan keseragaman empiris, karena mereka hanya setengah benar dimana kebenaran penuh adalah uraian yang secara akurat sesuai dengan fakta-fakta yang telah terjadi dan dengan hukum-hukum yang perlu di tegakkan.
·         Mekanisme
Mekanisme secara filosofis terhubung dengan naturalisme atau materialisme. Metafora akarnya adalah sebuah mesin. Seperti formisme, ia merupakan suatu teori analitis yang berfokus pada elemen-elemen yang memiliki ciri-ciri tersendiri dan bukannya sesuatu yang kompleks atau konteks. Akan tetapi, tidak seperti formisme, ia integratif dalam suatu urutan yang tertentu dan, jika cukup banyak hal yang dapat diketahui. Mereka dapat di ramalkan, atau paling sedikit di uraikan, sesuai dengan kebutuhannya.pengetahuan yang berjenis mekanisme ini memiliki enam  ciri-ciri :
a. Seperti sebuah mesin, objek studi terdiri atas bagian-bagian yang memiliki lokasi-lokasi tertentu.
b.   Bagian tersebut dapat dinyatakan dalam bentuk kuantitatif, sesuai dengan sifat utama dari mesin tersebut.
c.   Hubungan resmi antara bagian-bagian dari objek studi dapat diuraikan sebagai rumus-rumus fungsional atau korelasi-korelasi statistik, hal ini merupakan pernyataan dari antarhubungan di antara bagian-bagian mesin.
d.   Sebagai tambahan dari sifat utama, terdapat karakteristik lain yang dapat di nyatakan secara kuantitatif, meskipun tidak relevan secara langsung dengan objek studi: Mereka adalah sifat-sifat sekunder.
e.   Sifat-sifat sekunder tersebut juga berhubungan secar prinsip dengan objek studi karena “ jika memang terdapat suatu uraian lengakap tentang mesin, kita seharusnya ingin untuk menemukannya dan menguraikan prinsip seperti apakah yang dapat mempertahankan sifat-sifat sekunder tertentu terletak pada bagian-bagian tertentu dari mesin tersebut”.[8]
f.   Hukum-hukum sekunder menandai hubungan yang stabil di antara sifat-sifat sekunder.
·         Kontekstualisme 
Kontekstualisme berhubungan dengan pragmatisme. Metafora akarnya adalah peristiwa historis atau tindakan dalam konteks. Tidak seperti formisme, kontekstualisme bersifat sintetis, di mana ia berfokus pada pola, suatu keseluruhan objek studi daripada fakta-fakta yang terpisah. Seperti formisme, kontekstualisme bersifat dispersif di mana fokusnya adalah pada interpretasi dari fakta-fakta yang di ambil satu per satu dari suatu keseluruhan fakta.
·         Organisisme
Organisisme terhubung dengan absolut atau idealisme objektif. Metafora akarnya adalah integrasi secara keseluruhan atau kesatuan yang harmonis dilihat dari segi ketepatan waktu dan struktur yang bertahan. Seperti mekanisme, organisisme terintegrasi dalam artian bahwa dunia tersusun dari fakta-fakta yang tertata rapi dan terintegrasi yang dapat diuraikan sekaligus dapat diramalkan. Seperti kontekstualisme ia bersifat sintetis, dengan berfokus pada keseluruhan objek studi  dan bukannya fakta-fakta yang berbeda.
Teori kebenaran dari organisisme adalah koherensi yang di dasar kan pada determinasi dan keabsolutan. Dengan kata lain, organisisme mengusulkan adanya tingkat kebenaran yang tergantung pada jumlah fakta yang di ketahui,dan ketika semua fakta telah diketahui, karena memang pada prinsipnya mereka dapat diketahui, baru kebenaran absolut dapat di peroleh.[9]
B.  Formisme dalam akuntansi
Formisme dalam akuntansi meliputi pencarian akan kesamaan dan perbedaan di antara berbagai objek studi yang berbeda-beda tanpa mempertimbangkan adanya kemungkinan hubungan di antara mereka. Dapat di kemukakan bahwa seluruh pengetahuan teknik akuntansi yang digunakan dalam pengajaran akuntansi dan termuat dalam buku-buku teks standar sampai sejauh ini adalah formistis secara mutlak. Aturan-aturan umum, model dan algoritma yang digunakan untuk menjelaskan fenomena akuntansi dan untuk membantu  pelaksanaan praktik akuntansi adalah objek studi yang memiliki ciri-ciri tersendiri, yang dapat di bandingkan  dari segi tingkat kesamaan dan perbedaan di antara mereka.
C.  Mekanisme dalam akuntansi
Mekanisme akuntansi tidak hanya meliputi pencarian kesamaan dan perbedaan di antara objek-objek studi namun juga dan terutama adalah untuk hubungan kuantitatif yang memungkinkan untuk dilakuakan  penguraian dan peramalan. Mekanisme dalam akuntansi adalah juga pencarian keteraturan empiris antara fenomena yang berbeda-beda melalui berbagai bentuk korelasi statistik.
Mekanisme dalam akuntansi berfokus pada pencapaian uraian yang semakin mendalam dan penyajian yang lebih sempurna agar dapat menggambarkan suatu representasi yang singkat dari logika yang menghubungkan bagian-bagian dari objek penelitian akuntansi.
Masalah lain yang dihadapi oleh mekanisme dalam akuntansi adalah adanya asumsi tidak langsung bahwa:
·         Ukuran tidak memiliki perbedaan (invariant), dan
·         Hubungan diantara ukuran tidak memiliki perbedaan (invariant).
D.  Kontekstualisme dalam akuntaansi
Kontekstualisme dalam akuntansi berfokus pada interpretasi dari fakta-fakta independen yang di peroleh dari seperangkat fakta menurut satu konteks spesifik yang akan menciptakan suatu pola atau gestalt. Fakta-fakta yang terdapat di setiap pola diasumsikan akan mengalami perubahan dan menerima hal-hal baru. Tambahan lagi, mereka akan di bedakan berdasarkan sifat dan tekstur mereka.
Kontekstualisme  dalam penelitian akuntansi bergantung pada analisis dari fakta-fakta yang hanya diverifikasi secara langsung. Fakta-fakta yang spesifik terhadap situasi tertentu. Sehingga hasil akhirnya akan memiliki ruang lingkup yang terbatas.
E.   Organisisme di dalam akuntansi
Bagi mereka yang menerapkan organisisme di dalam akuntansi akan berfokus pada gestalt yang spesifik sebagai objek studinya,yang terdiri atas fakta-fakta yang tertata dengan baik dan terintegrasi serta dapat di uraikan sekaligus diramalkan. Seperti mekanisme dalam akuntansi, organisisme mencari determinasi dari keteraturan empiris  di antara fenomena-fenomena yang berbeda melalui beragam bentuk analisis statistik. Namun tidak seperti mekanisme, pecarian keteraturan empiris tersebut dipersempit kepada konteks-konteks gestalt yang spesifik.
Organisasi dalam akuntansi memang akan bergantung pada ketersediaan dari basis data asli, fokus pada konteks spesifik yang akan mengakui keunikan dari data dan mengharmonisasikan nya menjadi holon akuntansi yang lebih lengkap, dan sebagai hasilnya akan memberikan struktur mendasar yang lebih komprehensif. Organisisme dalam akuntansi perlu pula untuk mengidentifikasi urutan langkah-langkah yang mencapai puncaknya dalam suatu telos, suatu struktur keseluruhan yang mendetail.  

4.   Perspektif Pada Penelitian Akuntansi
Penelitian akuntansi dapat memiliki banyak ragam dan pilihan. Bagi orang awam, penelitian akuntansi tampak seperti mengalami kesulitan dalam mencari topik, metodologi, dan jenis wacananya. Kenyataan nya sangat berbeda. Seperti ilmu sosial lainnya, akuntansi melakukan penelitiannya dengan didasarkan pada asumsi-asumsi yang berhubungan dengan hakikat dari ilmu sosial dan hakikat dari masyarakat. Sebuah pendekatan yang telah di terapkan oleh Burrell dan morgan dalam analisis organisasional dapat digunakan untuk membedakan empat pandangan penelitian dalam akuntansi – pandangan fungsional, pandangan interpretatif, pandangan humanis redikal, dan pandangan strukturalis redikal. Dalam bagian ini, keempat pandangan tersebut akan dibahas dan diterapkan pada penelitian akuntansi.
a.   Kerangka kerja Burrell dan Morgan
·         Hakikat Ilmu Sosial
Terdapat empat asumsi yang dibahas dalam kaitannya dengan hakikat dari ilmu sosial, yaitu:
Pertama, asumsi ontologis, berhubungan dengan esensi paling mendasar dari fenomena akuntansi, yang melibatkan perbedaan-perbedaan nominalisme-realisme. Perbedaan yang terjadi adalah apakah alam sosial yang berada di luar  kesadaran individu adalah merupakan suatu penggabungan nama-nama asli, konsep, dan judul yang merupakan struktur pada kenyataan.
Kedua, perdebatan tentang epistemologi, yang berkaitan dengan dasar pengetahuan dan hakikat pengetahuan, melibatkan debat antipositivisme-positivisme.perdebatan ini berfokus pada kegunaaan dari pecarian hukum atau keteraturan yang menjadi dasar dalam bidang sosial.
Ketiga, pardebatan sifat manusia, berkaitan dengan hubungan antara manusia dan lingkungannya, yang melibatkan perdebatan voluntarisme-determinisme. Perdebatan ini berfokus pada apakah manusia dan aktifitasnya ditentukan oleh situasi atau lingkungan. Perdebatan mengenai metodologi, yang berkaitan dengan metode-metode yang di gunakan untuk melakukan penyelidikan dan mempelajari alam sosial, melibatkan  perdebatan ideografis-nomotesis.
·         Hakikat Dari Masyarakat
Satu asumsi mengenai hakikat masyarakat – yaitu, perdebatan susunan-konflik, atau lebh tepat lagi, perdebatan regulasi-perubahan radikal. Sosiologi regulasi mencoba untuk menjelaskan masyarakat dengan berfokus pada kesatuan dan keterpaduannya serta perlunya diberikan suatu regulasi. Sosiologi perubahan radikal sebaliknya, mencoba untuk menjelaskan masyarakat dengan berfokus pada perubahan radikal, konflik struktural mendalam, cara pendominasian, dan pertentangan struktral yang terjadi pada masyarakat modern.
·         Kerangka Kerja Untuk Analisis Penelitian
Salah satu contoh kerangka kerja yang digunakan oleh Morgan untuk memeriksa bagaimana teori organisasional dipengaruhi oleh asumsi-asumsinya sendiri dengan melalui referensi pada paradigma, metafora, dan perilaku pemecahan teka-teki.
b.      Pandangan Fungsionalis dalam Akuntansi
Pandangan fungsional dalam akuntansi berfokus pada penjelasan keteraturan sosial, dimana akuntansi memainkan sebuah peranan. Paradigma fungsional dalam akuntansi melihat fenomena akuntansi sebagai hubungan dunia nyata yang konkret yang memiliki keberaturan dan hubungan sebab akibat yang dapat diterima dengan disertai penjelasan dan peramalan ilmiah.
c.       Pandangan Interpretatif dalam Akuntansi
Asumsi-asumsi yang dominan dari pandangan interpretatif dalam akuntansi hendaknya adalah :
·         Percaya pada pengetahuan
·         Percaya pada kenyataan fisik dan sosial
·         Hubungan antara teori dan praktik
d.      Pandangan Humanis Radikal dalam Akuntansi
Pandangan humanis radikal dalam akuntansi berfokus pada penjelasan tatanan sosial dan memberikan penekanannya pada bentuk-bentuk dari perubahan radikal.
e.       Pandangan Strukturalis Radikal dalam Akuntansi
Pandangan strukturalis radikal dalam akuntansi akan menantang tatanan sosial.
Dari sudut pandang strukturalis radikal ini, organisasi merupakan sebuah instrumen dari kekuatan-kekuatan sosial yang berkepentingan untuk mempertahankan pembagian tenaga kerja dan pembagian kekayaan dan kekuatan di masyarakat.

5.   Fondasi Intelektual Dalam Akuntansi
A.              Akuntansi Berbasis Ekonomi Marginal
Ekonomi marginal dan akuntansi konvensional yang di dasarkan pada nilai dan laba ekonomi yang berhubungan, dikaitkan dengan nilai dari kemungkinan konsumsi di masa datang yang diperoleh dari taksiran nilai sekarang dari aliran arus kas mereka.
D.J. Cooper menunjukkan bahwa tingkat suku bunga pasar bergantung pada permintaan dan penawaran model moneter, yang selanjutnya akan bergantung pada tingkat suku bunga pasar.[10] Singkatnya, ekonomi marginal ditampilkan sebagai tautologis atau tidak terdeterminasi.
B.              Akuntansi Ekonomi Politis
Akuntansi Ekonomi Politis (AEP) adalah sebuah pendekatan normatif, deskriptif, dan kritis terhadap penelitian akuntansi. Ia memberikan kerangka kerja yang lebih luas dan lebih holistik dalam menganalisis dan memahami nilai dari laporan-laporan akuntansi didalam ekonomi keseluruhan. Pendekatan AEP mecoba untuk menjelaskan dan menerjemahkan peran dari laporan akuntansi dalam pendistribusian laba, kekayaan, dan kekuatan dalam masyarakat.
C.              Akuntansi Berbasis Disiplin Ilmu Bisnis
Untuk meningkatkan posisi dan penghormatan terhadap akuntansi, berbagai usulan telah dibuat baik untuk akuntansi maupun berbagai disiplin ilmu bisnis. Usaha tersebut umumnya diarahkan kepada pengadaptasian akuntansi untuk mengubah lingkungan sosial dan ekonomi.

----

TUGAS TEORI AKUNTANSI BAB 9
OFF P S1 AKUNTANSI
1. ARMI OKTA SURYANDARI
2. NINDIA MAHARANI